bab II MEMANDANG PENDIDIKAN





Bagian
II

MEMANDANG
PENDIDIKAN


PENINGKATAN KUALITAS GURU
MELALUI LESSON STUDY

Proses pembelajaran di negari ini pada umumnya masih banyak dikuasai oleh guru (teacher-centered), sehingga peserta didik cenderung pasif. Karena peserta didik hanya mendengarkan  materi yang diberikan guru, maka kondisi proses pembelajaran terasa monoton dan akhirnya membosankan.
Pada awalnya guru merasa bangga dan pintar apabila masuk ruang kelas tanpa membawa buku. Mereka begitu lancar dalam menerangkan materi yang diampunya, bahkan dalam satu tahun pun kebanyakan guru sudah hapal diluar kepala. Tanpa persiapan mereka piawai dalam menyampaikan materi yang akan diajarkan. Namun dalam perkembangan dunia pendidikan yang membutuhkan peserta didik aktif, kreatif, serta inovatif maka pembelajaran seperti di atas sudah bukan jamannya lagi dan bahkan harus dikubur dalam-dalam.
Pada perkembangan berikutnya proses pembelajaran harus menyenangkan dan kendali waktu sebagian besar dikuasai peserta didik (student-centered). Maka guru perlu mempersiapkan diri sebelum melakukan proses pembelajaran. Persiapan yang dilakukan guru sebelum menyampaikan materi ajar sangat penting untuk menentukan keberhasilan tersampainya materi ajar pada peserta didik.
Sebenarnya persiapan mengajar seperti ini sudah lama dilakukan oleh seorang calon guru SD (Sekolah Dasar). Ketika saya belajar di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) tahun 1970-an setiap calon guru yang akan praktek mengajar harus mempersiapkan SP (Satuan Pembelajaran). Satuan pembelajaran harus dikonsultasikan dulu kepada guru pembimbing. Dalam konsultasi ini, semua langkah dari pembukaan sampai penutup dibahas satu persatu. Bagaimana metode pembelajaranya, cara membuat TIK (Tujuan Instruksional Khusus). Seorang calon guru merasa bangga kalau dalam sekali konsultasi SP-nya tidak ada koreksinya. Namun setelah jadi guru hal tersebut jarang dilakukan dan bahkan SP atau sekarang dikenal istilah RPP dibuat setahun sekali.
Pentingnya melakukan persiapan sebelum proses pembelajaran ini juga dilakukan di negara Jepang. Namun bedanya,  mereka melakukan secara terus menerus dan bahkan dipraktekkan lebih dahulu dihapan temannya. Sampai saat ini cara tersebut menjadi rujukan pembelajaran di negara lain, itulah yang dikenal dengan istilah Kenkyuu Jugyo atau Lesson Study.
Lesson study masuk ke Indonesia sekitar tahun 2006 melalui proyek JICA (Japan International Corporation Agency) melalui 3 universitas UM, UPI dan UNY. Negara lain pun seperti di Amerika Serikat juga mengembangkan Lesson Study tersebut. Tokoh yang mempopulerkannya adalah Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun 1993. Kita sebagai negara berkembang perlu sekali melakukan Lesson Study untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini.
            Lesson Study bukan metode pembelajaran atau teori belajar, tetapi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran dalam Lesson Study ini sangat terlihat pada proses perencanaan. Bagaimana seorang guru mendesain proses pembelajaran yang akan dilakukan. Dari berbagai unsur baik materi, metode, media, alat peraga dan kondisi peserta didik serta berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada proses pembelajaran itu dibayangkan, didiskusikan, dipecahkan dan dipraktekkan dulu dihadapan temannya. Semua kekurangan dalam praktek mengajar akan dievaluasi dan dibenahi sehingga betul-betul sempurna dalam implementasinya. Setelah semuanya siap baru seorang guru mempraktekkannya dalam proses pembelajaran. Tidak hanya berhenti diperencanaan (plan) namun dilihat saat mempraktekkannya (do) dan perlu dibahas (refleksi) dan ditindak lanjuti.
Langkah berikutnya setelah Plan adalah Do. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran atau do semua orang boleh mengamatinya. Dalam pengamatan baik dari temannya atau dari pengawas juga siapa saja, para observer tidak boleh menilai bagaimana guru melakukan proses pembelajaran, namun hanya melihat bagaimana fakta aktivitas peserta didik. Para observer mencatat semua aktivitas peserta didik. Catatan itulah yang nanti akan dibahas di proses berikutnya yaitu Se {refleksi)
Pada tahap akhir adalah Se. dalam tahapan ini semua observer memberikan masukan kepada guru model. Pada intinya para observer memberikan fakta semua aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik ketika guru model melakukan pembelajaran. Tidak ada yang menghakimi cara mengajar guru. Yang disampaikan adalah seperti Si Fulan tidak mengerjakan ini. Si B kurang aktif dsb, j adi guru tidak merasa dihakimi atau dinilai oleh temannya. Hal tersebut akan memberikan sikap toleransi yang luar biasa dan membangun rasa percaya diri pad guru model. Dari sinilah perbaikan perbaikan akan disusun demi menyempurnakan proses pembelajaran para guru.
Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk: (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.
            Manfaat  yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study.
Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari: (1) perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); refleksi (check); dan tindak lanjut

Dampak Lesson Study pada PKG (Penilaian Kinerja Guru)
Akhir-akhir ini guru disibukkan dengan tugasnya untuk dinilai oleh asesor untuk diambil nilai dari kinerjanya. PKG merupakan proses untuk meningkatkan kinerja guru yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan di negeri yang tercinta ini. Penilaian dilakukan tidak hanya pada saat guru melakukan proses pembelajaran namun diamati aktivitas sehari-hari baik dilingkungan sekolah maupun keluarga dan di masyarakat.
Substansi guru untuk meningkatkan prestasi peserta didik ada pada proses pembelajaran. Proses pembelajaran dikatakan berhasil jika materi yang deberikan oleh guru tuntas tersampaikan dan dimengerti oleh peserta didik. Maka dari itu Lesson Study inilah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dengan melaksanakan lesson study guru model (gudel) sebitan guru yang melaksanakan LS akan menjadi ahli strategi dalam menyampaikan materi ajar kepada peserta didik. Karena merasa persiapannya sangat matang , maka guru model tersebut dapat menawarkan diri untuk dinilai kenerjanya pada saat melakukan proses pembelajaran. Dengan persiapan atau plan yang matang, maka akan mensukseskan proses pembelajaran. Dengan demikian nilai yang diperoleh Gudel pada saat proses pembelajaran sangat memuaskan.
Mengapa dengan melakukan lesson study nilai kenerja guru (PKG) sangat memuaskan?. Karena seorang guru yang ditunjuk menjadi gudel secara berkolaborasi melakukan perencanaan yang matang dengan temannya. Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Study menyusun RPP yang pembelajarannya berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis semua kebutuhan dan permasalahan yang akan muncul saat proses pembelajaran berlangsung, seperti tentang: kompetensi dasar yang dijabarkan menjadi indikator, cara membelajarkan siswa aktif, pemenuhan media dan alat pembelajaran, dan lain-lain, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran.
 Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran. Maka dengan Lesson study seorang guru wwajar akan mendapatkan nilai yang sangat memuaskan. 
Dampak Lesson Study pada Karya Tulis Ilmiah.
            Lesson study sangat tepat untuk menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah berupa Penelitian Tindakan Kelas. Mengapa?. Dengan melakukan lesson study tentu sudah melakukan banyak perubahan baik metode dan media pemelajarannya. Dengan mengambil metode yang baru dalam melakukan proses pembelajaran tentu dapat digunakan sebagai awal untuk melakukan sebuah penelitian. Pada prinsipnya lesson study sama dengan melakukan penelitian tindakan kelas. Keduanya berujung pada perbaikan pembelajaran yang akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
            Ketika kita melakukan perubahan dalam pembelajaran baik itu merubah media, sarana,  metode, lingkungan, mungkin pengelolaan dalam pembelajaran maka kita dapat melakukan penelitian apakah perubahan itu berdampak pada prestasi peserta didik. Dari perubahan-perubahan itu kita catat dan kita laporkan sehingga akan menjadi sebuah penelitian tindakan kelas pada siklus pertama. Karena tindakan ini kemungkinan akan berlanjut setelah mengadakan refleksi maka tindakan kedua merupakan siklus kedua pada penelitian tindakan kelas.  Namun hasil refleksi untuk  memperbaiki proses pembelajaran pada siklus ke-dua kita tidak perlu open class pada kelas yang sama. 
Diharapkan dengan melaksanakan lesson study dapat menghasilkan penelitian tindakan kelas yang orisinil. Dengan menghasilkan PTK, maka guru tidak akan susah dalam kenaikan pangkatnya. Berdasarkan Permenpan dan RB no 16 kenaikan pangkat mulai golongan III B harus disertai Publikasi Ilmiah diantaranya PTK atau bisa juga dengan Karya Inovasi.
Seberapa besar angka kredit yang mereka peroleh kalau tidak dapat menghasilkan karya inovasi dan publikasi ilmiah seorang guru tidak akan pernah naik pangkat. Dengan demikian diharapkan seorang guru dapat melakukan Lesson study untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Dengan LS dapat dipergunakan untuk  penilaian kinerja guru serta menghasilkan Penelitian Tindakan Kelas dan juga best practice.





DENGAN  UJIAN NASIONAL
NILAI  TAWAR  PENDIDIKAN  MENINGKAT
Saat ini, iklim dunia pendidikan terasa ada perubahan yang sangat mendasar. Perbedaan itu terletak pada  ketika suasana menjelang pengumuman kelulusan atau kenaikan kelas. Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar rasa kawatir kalau nanti tidak naik kelas itu sangat terasa, apalagi ketika menjelang pengumuman kelulusan.
Selain itu nuansa hubungan guru dengan murid juga berbeda jauh. Hilangnya sebagian rasa hormat, taat, patuh, menaruh cita-cita, kesopanan atau unggah ungguh, keikhlasan yang ditunjukan dengan kerja tanpa pamrih, belajar dengan sungguh-sungguh saat ini tidak hanya diradakan di kota namun juga di pedesaan.
Dengan marakanya sekolah-sekolah yang lulus 100%, maka keyakinanan anak didik juga juga 100% akan lulus. Ketika menjelang pengumuman kelulusan, para siswa bukan merasakan kekawatiran lulus atau tidak lulus natinya, tetapi mereka sibuk membeli berbagai alat tulis dan semprot untuk merayakannya atraksi corat-coret dengan temannya disertai konvoi keliling yang notabene banyak melanggar sopan santun berlalu lintas. Bahkan sampai antara anak laki-laki dan perempuan sudah tidak ada batasnya lagi. Mereka berbonengan tidak hanya dua, tetapi bertiga dan juga tidak memakai helm.
Penomena perubahan tersebut memang wajar adanya.  Kecenderungan lulus 100 % dan nilai yang tinggi serta tidak menentunya arah krisis multi dimensi yang tidak kunjung pulih, menambah semakin kompaknya bagi sebagian besar anak tidak mempunyai rasa tanggung jawab secara pribadi maupun sosial. 
Obat penawar yang sekarang digulirkan pemerintah nampaknya akan membuat anak berpikir seribu kali. Untuk mengurangi rasa keyakinan yang berlebihan bahwa mereka pasti lulus, pemerintah menentukan kriteria kelulusan yang tidak bisa ditawar lagi. Penentuan kelulusan dengan passing grade merupakan nuansa segar yang perlu ditingkatkan dan ditindak lanjuti.
Kriteria kelulusan tahun 2003 yang berstandart minimal 3.01 untuk ketiga mata pelajaran Bahasa Inggris, Indonesia dan Matematika dibilang lucu, maka untuk tahun ini 2004 dinaikkan menjadi 4,01 dan tidak ada ujian ulang.  Ketika tidak ada ujian ulang pemerintah juga merasa khawatir kalau nanti tidak banyak yang lulus, akhirnya di tengah jalan pemerintah ngeper dengan memberikan kesempatan mengulang.
Sementara ini negara tetangga kita tertawa lebar, mendengar dunia pendidikan kita. Bagaimana nilai tiga (3) dan sekarang menjadi 4,01 bisa lulus?. Keraguan pemerintah akan mutu pendidikan, membuat kebijakan yang plin plan. Terlalu berani kalau setiap tahun standart kelulusan akan dinaikkan.
Kalau kita hubungkan dengan kasus konversi nilai yang dilakukan sekitar 4 tahun yang lalu, merupakan hal yang wajar jika tahun ini batal untuk tidak diadakannya ujian ulang. Sebenarnya, dengan adanya berita tiap tahun akan menaikkan standart kelulusan, membuat para pendidik sibuk dalam mempersiapkan diri dan anak mereka, untuk bisa lulus ujian.
Dari sinilah nilai tawar atau harga pendidikan akan diperhitungkan. Tidak hanya itu saja, dengan keberhasilan demo guru di Kampar yang bisa membuat bupatinya turun, menunjukkan betapa kuatnya kita para guru dan anak didik kalau mau bersatu. Bahkan dengan amandemen UUD tentang pendidikan yang mengalokasikan APBNnya sebesar 20 % semakin mengangkat derajat hidup orang banyak yang berporos pada pendidikan. Negara atau bangsa yang besar berangkat dari sumber daya manusianya yang pintar dan handal.
Belumkah Ada Renungan?
Setiap hari Pendidikan yang jatuh pada tanggal 2 Mei, kita selalu memperingatinya tanpa makna, tetapi tahun ini nampak terjadi perubahan yang substasial dan merupakan tonggak untuk merenung serta instropeksi “mengapa kwalitas pendidikan kita ini selalu mendapatkan rangking pertama dari bawah”.
Kita sudah saatnya untuk tidak mengulangi orde seolah-olah. Bagaimanapun generasi kita merupakan tumpuan hidup dimasa mendatang. Keseriusan kita mengolah aset didik yang penuh perbedaan ini, harus sedini mungkin kita persiapkan untuk mulai berani menerima kenyataan dan tidak mengulangi kesalahan yang lalu yaitu “belajar tidak belajar naik kelas” dan juga “lulus ujian”
Saat sekarang diharapkan sudah ada perubahan pada diri si anak adanya rasa khawatir untuk tidak lulus, rasa takut untuk tidak naik kelas, rasa hormat dan sopan kepada guru serta orang tua, rasa malu karena tidak bisa, juga giat belajar untuk ngejar nilai dsb. sehingga betul-betul mempunyai dampak perubahan dari dalam si anak.
Mudah-mudahan usaha baik dari pemerintah ini tidak bertepuk sebelah tangan, sehingga betul-betul membawa perubahan yang substansial pada dunia pendidikan kita mendatang.
Kami sebagai pendidik sangat berharap dengan adanya pemilu ini akan menghasilkan pemimpin yang bijak serta mengerti bahwa pendidikan merupakan pondasi dari segala kehidupan manusia.


SEMUA SEKOLAH ITU BAIK
TIDAK ADA SEKOLAH YANG UNGGUL
Bulan Juni dan Juli musimnya orang tua mencarikan sekolah anaknya. Ada yang bingung mencari taman, ada yang ketakutan mencari sekolah. Semua taman dan sekolah saling mengklaim dirinya yang paling unggul atau favorit, sehingga orang tua bingung mencarikan sekolah atau taman anak kesayangannya. Ada ketakutan karena tidak masuk sekolah unggulan atau favorit, atau ketakutan karena belum mempunyai dana untuk persiapan kelengkapan sekolah.
Mari kita buka pendidikan di negeri ini, jika dipilah dan dipilih maka ada tiga kategori sekolah negeri.
a.       Sekolah Unggul
b.      Sekolah punya program unggulan
c.       Sekolah Biasa.
Sekolah Unggul.
Di setiap kabupaten dan kota pasti ada sekolah yang unggul atau favorit. Kalau dulu di setiap kota dan kabupaten ada Sekolah Standar Nasional dan Sekolah Berstandar Internasional.
Sekolah Berstandar Internasional didanai atau dicukupi oleh pemerintah. Sedangkan Sekolah Standar Nasionalpun juga ada dana dari pemerintah. Jadi saat ada RSBI dan SSN sekolah terasa ada perbedaan yang nyata. Sebut saja ada sekolah unggulan dan tidak unggul. Pada saat itu sekolah unggul dibedakan dari segi pendanaan  dan input peserta didiknya. Dan wajar kalau outputnya itu terbaik, karena dana dan inputnya terbaik juga.
Tetapi saat ini tidak ada sekolah yang diunggulkan atau difavoritkan. Mengapa? karena tidak ada sekolah yang semua peserta didikya unggul.
Di negeri ini tidak ada sekolah unggul. Yang ada hanya kumpulan peserta didik yang unggul. Berbeda dengan sekolah swasta. Mereka bisa melakukan apa saja demi membentuk sekolah unggul. Contohnya: guru yang tidak layak lansung diberhentikan, calon peserta didik nilainya harus tinggi dan bebas menarik uang pembinaan demi kualitas sekolah. Jadi sekolah yang unggul itu adanya di swasta.
Hampir semua sekolah negeri itu mempunyai kualitas guru yang sama. Ada guru yang berkualitas sangat baik sampai guru yang tidak layak. Dimanapun sekolah di negeri ini, kualitas guru seperti itu adanya. Pada hal yang namanya sekolah unggul itu minimal gurunya unggul semua, baru fasilitas lainnya. Sebab guru unggul akan melahirkan anak unggul. Kalau semua gurunya unggul akan menjadikan sekolah itu unggul pula.
Sedangkan sekolah kategori unggul adalah segalanya baik. Dari gurunya unggul, peserta didiknya baik, dan prasarananya baik. Kalau semua gurunya unggul maka akan membuat pembelajarannya baik dan menjadikan sekolahnya unggul. Kalau sekolahnya unggul maka lulusannya akan unggul. Itulah yang dinamakan sekolah unggul. Jadi sekolah saat ini tidak ada yang unggul. Kecuali sekolah swasta.
Sekolah Punya Unggulan
Sekolah ini tidak sehebat sekolah Unggulan. Sekolah diprogramkan hanya mempunyai salah satu unggulan. Dari unggulan inilah akhirnya sekolah menjadi terkenal. Dengan kata lain, orang mengenal sekolah ini dari salah satu bidang yang diunggulkan. Contoh: karena bolla volleynya selalu menang terus menerus, maka sekolah tersebut terkenal dan menjadi pertimbangan orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut. Ada lagi karena sangat disiplinnya, sehingga orang tua bilang kalau pingin anak mu disiplin sekolah di sana” kalau peingin agamane apik di sekolah B dsb.
Inilah sekolah yang punya program unggulan dan akhirnya menjadi unggulan atau branded sekolah. Anak akan semakin bangga dengan program unggulan yang ada di sekolahnya, sehingga semua warga sekolah bahkan masyarakatpun juga bangga dengan  program unggulan tersebut.
Pernah ada program dari pemerintah yang namanya “PBKL” yaitu pendidikan berbasis keunggulan local. Program tersebut bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan melalui program unggulan yang diambil dari kekuatan local. Namun program tersebut hilang dan saat ini program sekolah kita semakin tidak jelas. Ada sekolah rujukan, sekolah model dan sekolah imbas.
Jadi sekolah yang punya program unggulan hanya mengedepankan salah satu program yang akhirnya harus dipenuhi semua kebutuhannya. Anakknya diseleksi, saranannya dikompliti dan guru dan tenaga ahlinya disediakan. Sehingga program ini secara terus menerus berprestasi menjadi juara dimanapun berada. Inilah sekolah yang punya program unggulan.
Sekolah biasa
Sekolah biasa ini hanya menjalankan rutinitas kerja tanpa greget program yang ingin dicapai. Mereka kerja hanya menyelasaikan tugas. Yang penting mereka sudah menyampaikan ilmu sesuai dengan rencana program setiap semester selesailah tugas mereka. Anak didikpun juga tidak pernah juara disetiap pertandingan. Saranannyapun juga yang penting ada. Inilah profil sekolah biasa.
Jadi sekolah ini tergolong sekolah yang mati tak mau hiduppun juga enggan. Dan seperti sekolah inilah yang paling banyak di Negara kita. Mereka dipandang sebelah mata.
Akhirnya sekolah inilah yang semakin hari semakin kehabisan anak didiknya. Dan pada akhirnya tutup, karena tidak ada anak didiknya.
Beginilah profil pendidikan kita di Indonesia. Semoga ke depan sekolah di Negara ini menjadi impian bagi setiap anak didik kita. Anak kita semakin nyaman di sekolah dan menjadi menjadi yang terbaik desetiap potensi yang ada.







BERBEKAL  BERBAHASA INDONESIA
YANG  BAIK  DAN  BENAR
            Ketika penulis masih belajar di IKIP Yogyakarta tahun 1980an ada salah satu pengalaman yang tidak bisa terlupakan. Akhirnya pengalaman itu menjadi senjata saya untuk berani berkomunikasi.  Pengalaman itu bahkan membuat mental dan keyakinan penulis untuk berani dan tidak canggung dalam berkomunikasi dengan  orang siapapun tanpa malu dan ragu.
            Pada waktu itu penulis akan minta persetujuan berapa jumlah mata kuliah yang akan diambil ke dekan Bhs. Inggris. Sialnya baru pertama ini dalam hidup saya  menemui dosen yang sangat teliti dan care dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar.
            Seperti biasa, ketika kita akan masuk ruangan atau kantor saya langsung ketok pintu dan mengucap assalamualaikum. Pak dosen mempersilahkan masuk, setelah penulis masuk langsung mengucapkan “Pak Minta Tanda Tangan” kemudian pak Dosen mempersilahkan duduk. Awal pembukaannya saudara dari mana? Saya jawab dari  Magetan, Jawa Timur. Langsung dia bilang: la layak ndak tahu bahasa yang baik dan benar, dan masih banyak lagi yang lainnya sampai entek amek kurang golek, sampai ditatar P 4 segala.  Hanya dengan berbahasa yang kurang baik, saya dinasehati dan ditatar sampai sekitar setengah jam.
            Dengan perasaan agak dongkol saya pamit dan saya cerita sama teman-teman kalau jumpa dosen ini, anda harus bilang “pak maafkan mengganggu sebentar, bolehkah saya minta tanda tangan.? ” pak nyuwun sewu ngganggu sekedap, menawi mboten kaweratan bade nyuwun tapak asto. dengan bahasa Jawa pun nampaknya luwes dan enak dalam membuka percakapan..
            Berbahasa baik dan benar dalam dunia pendidikan, nampaknya masih jauh dari harapan. Bukti yang jelas anak didik kita dan bahkan gurunyapun pada umumnya masih banyak yang belum menerapkan bahasa yang baik dan benar, mereka menganggap sepele dan mungkin juga belum tau.
Kita sebagai guru apalagi yang memegang mata pelajaran  Bahasa Indonesia harus betul mengimplementasikan di sekolah sejak sedini mungkin dari rumah, TK sampai Perguruan tinggi. Peran sekolah yang  serentak dan saling bekerja sama, kemungkinan generasi kita akan terbiasa berkata :”maaf mengganggu sebentar, bolehkah saya (kami) …dsb sebagai pembuka bicara, sehingga akan membuat kesejukan dalam berkomunikasi.
Dengan berbahasa yang baik dan benar akan membuat suasana cair dan nyaman. Walaupun yang diajak bicara dalam keadaan marah atau sibuk, mereka akan tidak jadi marah karena tersiram kesejukan kalimat itu, sehingga menimbulkan komunikasi hangat penuh kekeluargaan.
            Penggunaan berbahasa yang baik dan benar saat ini mulai kita rasakan pada kantor-kantor publik yang melayani pelanggan, juga pada selles yang berkeliaran di kota dan di desa-desa. Mereka selalu mengawali ucapan dengan “Pak/Buk/mbak maaf mengganggu… “dsb. sedangkan di kantor-kantor di swalayan/supermarket selalu dibuka dengan “senyum yang arkhais” dan disertai sapaan pembuka “silakan duduk” atau “apa yang dapat saya bantu” dan seterusnya.
            Tidak semua anak melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, maka perlu sekali kita memberikan pendidikan kepada mereka yang mungkin selama ini hanya mendapatkan pengajaran yang konvensional. Pendidikan bicara/berkomunikasi, pendidikan bergaul, pendidikan sopan santun dan budi pekerti, cara berteman, pendidikan bertetangga, pendidikan berumah tangga, pendidikan mencari kerja, atau pendidikan sebagai makluk sosoial.  
Mari kita bekali peserta didik kita minimal dengan standar berkomunikasi yang baik dan benar untuk bekal terjun di masyarakat.      Dunia pendidikan akan terasa dan berguna, jika anak menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa lagi bagi anak yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Disinilah pentingnya pendidikan harus kita mulai dari keluarga dan terutama dari sekolah.
            Pendidik memang berat, tidak hanya mengajarkan ilmu yang ada dalam kurikulum dengan target tertentu, tetapi dunia luar yang  lebih luas, liar dan menantang itulah yang maembebani pendidik untuk mempersiapkan anak didiknya supaya bisa menaklukkannya dengan penuh keahlian dan latihan.
            Beban pendidik memang berat, sehingga mengharapkan amanat rakyat yang menganggarkan 20 % dari APBN untuk pendidikan betul-betul  direalisasikan. Siapa   takut!, kalau rakyat pintar! mestinya kita kan senang! jangan jadi gemetar!


INUL  MASUK  SEKOLAH

            Tulisan ini muncul setelah seorang siswi bernama Endang, bertanya kepada penulis di dalam kelas : apa pendapat bapak tentang goyang ngebor Inul”.
Dengan pertannyaan ini penulis teringat dan juga agak kecewa, sekitar bulan Mei yang lalu ada penayangan dialog di sebuah statsiun Televisi yang menampilkan seorang wanita praktisi pendidikan yang ditanya tentang goyang inul. Dia menjawab kurang meyakinkan dengan jawaban yang begitu hambar dan terkesan tidak mampu. Kalau ada pertanyaan tentang  hal itu pokoknya dijawab dengan baik.
Perkembangan dunia musik sekarang sangat sensasional dengan corak/gaya yang menghebohkan sehingga menimbulkan berbagai kritik/tanggapan. Goyang ngebor yang akhir – akhir ini menghebohkan dunia musik terutama irama dangdut membuat masyarakat semburat melontarkan kritik dan berbagai tanggapan yang bernuansa mendukung maupun menentang. Dari kalangan elit maupun kawulo alit (masyarakat bawah) meneriakkan suara masing-masing dan di sekolahpun murid bertanya bagaimana pendapatnya tentang “goyang ngebor”. Dengan pertanyaan ini guru tentunya harus berhati-hati dalam mengutarakan pendapatnya. Penulis sedikit memberikan wacana tentang pendapat goyang ngebor.

II. PENGERTIAN

            Kita sepakat bahwa seni itu indah. Dengan melepas segala kacamata yang kita pakai bahwa goyang ngebor merupakan rangkaian gerak yang menimbulkan bentuk baru yang menarik sehingga menimbulkan keindahan. Secara umum dapat diartikan bahwa “Seni adalah hasil karya manusia yang indah”. Dalam perkembangannya seni mulai bergerak dan berkembang sehingga seni tidak hanya yang menimbulkan keindahan kada-kadang bisa membuat apresiator jengkel, tidak suka, malu kadang-kadang bisa jadi menjijikkan. Semua berpulang bagaimana si apresiator melihat dan memandangnya.
            Dunia seni memang bergerak mencari popularitas dengan memunculkan berbagai karya dengan berbagai gaya/irama yang mengedepankan hasil karya yang orisinal dan baru. Jadi arti seni sekarang bisa jadi “ hasil kaya manusia yang orisinal dan baru”
            Dalam menanggapi berbagai goncangan yang digoyangkan Inul harus berhati-hati apalagi di dunia pendidikan. Kami akan memberikan berbagai alternatif pandangan antar lain :
1.       Seni.
Kacamata seni tidak begitu rumit seperti apa ang orang pikirkan. Keutamaan orisinal dan baru dalam mewujudkan sebuah hasil karya nampaknya merupakan unsue yang dipentingkan. Jadi seperti goyangan Inul Daratista yang terkenal dengan Ngebornya, adalah tak salah dan sah adanya serta justru ditunggu perkembangan berikutnya. Goyang patah-patah oleh Annisa Bahar, goyang ngecor oleh Uut Permatasari,  merupakan perkembangan berbagai goyang yang telah di goyangkan berbagai artis sebelumnya. Ingat seni perlu baru. Kalau orang mau menelorkan gaya, irama, metode, cara atau tehnis yang baru untuk membuat orang tetarik, apa mesti kita hentikan karena tidak menuruti pakem lama yang monumental dan tidak menarik lagi.
Jadi menurut kacamata seni hal itu merupakan ide dan wacana  baru yang menyemarakkan dunia seni dan  perlu sekali dikembangkan lagi gaya lain dari pada yang lain. Penggemar di seluruh bumi nusantara selalu menanti ide baru apalagi yang akan muncul berikutnya.
2.       Olah Raga.
Olah raga adalah mengolahkan/menggerakkan raga. Diakhir proses itu diharapkan kesehatan yang dicapai. Banyak dan bahkan menjamurnya berbagai senam yang menginginkan kesehatan di kota maupun di desa merupakan kesadaran baru yang sangat diharapkan kestabilannya. Goyang Inul menjadikan alternatif baru untuk bisa memberikan semangat baru dalam meningkatkan kesehatan raga. Walaupun ada dokter yang meramalkan bahwa tulang Inul akan cepat keropos, namun kesemuanya itu berpulang kepada latihannya setiap hari. Logika berkata kalau semua itu dilakukan setiap hari akan terlatih dan hal itu merupakan pekerjaan seharian yang harus dilakukan sehingga pendapat itu juga ada benarnya tetapi salahpun juga tinggi prosentasenya. 
3.       Kesehatan .
Sehat adalah sesuatu yang sangat berharga. Menjaga kesehatan tentunya sangat penting dengan tidur teratur, makan bergisi dan olah raga teratur. Seorang Inul yang bisa mengkombinasikan gerakan dan suara yang serasi, mempunyai kelebihan yang mungkin orang lain tidak bisa melakukannya. Karena geraknya yang begitu atraktif sehingga menimbulkan olah raga dan pada akhirnya memelihara dan meningkatkan kesehatan.
4.       Agama.
Dalam agama tentu akan memberikan kaidah yang berbeda, selama tidak melanggar aturan di dalam agama semua bisa kita lakukan.
 Goyang ngebor tidak dipersoalkan, namun kalau kostumnya terbuka ini yang membuat tidak etis bahkan bisa menimbulkan hal yang negatif.
Semua berpulang kepada kita semua. Kalau kita melihat/memandang sehingga menimbulkan efek yang negatif berarti hal itu bukan pada tempatnya.

KESIMPULAN

Unsur mendidik dari goyang ngebor tidak ada sama sekali namun kalau kita barpikir positf, kreativitas mereka yang perlu kita hargai.
Keberhasilan kehidupan tidak tidak harus melalui jenjang pendidikan, namun kesuksesan tersebut berkat kreasi yang menimbulkan keindahan dan orang lainpun tersebut tertarik untuk melihatnya.
Kami sebagai pendidik ketika ditanya di depan kelas menjawab dengan berbagai sudut pandang antara lain : Dari segi seni, olah raga dan ekonomi tidak ada masalah karena seni dan olah raga  merupakan hasil karya manusia yang mengandung keindahan dan kalau bisa harus baru dan orisinal. Dari segi agama dan etika ini yang agak berbeda. Dari segi agama jelas tidak ada aturan yang melarang orang bergoyang, hanya kalau perbuatan/tindakan tersebut merugikan/menimbulkan perbuatan negatif orang lain pasti kegiatan tersebut dilarang.





MENZALIMI  GURU

MERUPAKAN SIKAP  YANG  TIDAK  TERPUJI

Mendengar ada demonstrasi yang dimotori oleh para guru, sehingga merambah pada keikutsertaan anak didik yang akhirnya mendapat dukungan dari  orang tua siswa, serta tetangga membuat penulis bangga hati.
Kejadian yang baru kita simak bersama atas pengusiran Kepala SMU N 2 Air Tiris Abdul Latif Hasyim yang menanyakan sekitar pendidikan kepada bupati, pertanyaan itu di antaranya:
1.      Mengapa alokasi anggaran sektor pendidikan hanya 5,39 persen dari APBD?
2.      Mengapa selama dua tahun ini sudah 3 kepala dinas yang diganti?.
3.      Mengapa kepala dinas yang baru mesti didatangkan dari lembaga lain dari Jakarta (staf ahli Menristek, dari BPPT)?.
4.      Apakah benar proyek-proyek strategis bapak yang menekel langsung?.
Pertanyaan itulah yang sehingga membuat bupati marah dan bersikap emosional, dengan mengusirnya keluar dari ratusan guru yang sedang mengikuti pertemuan itu. Masih adakah pejabat lain yang bersikap arogan ?. Masih adakah para guru yang berani menyuarakan nurani?
Selama ini masih bisa dihitung dengan jari di negeri tercinta ini ada guru demonstrasi. Peristiwa di Kabupaten Madiun, Jakarta dan Kampar merupakan fenomena yang sangat baik tidak hanya demi masa depan generasi penerus yang penuh dengan  persaingan dan tantangan serta korp guru yang selama ini dikenal sebagai frofesi yang lugu dan wagu (tidak pantas) serta saru (tidak sopan) untuk bersuara seru.
Saya kira semua guru sepakat dan sekali lagi kami para guru sangat mendukung  teman-teman yang sedang mencari jati diri serta eksistensi di Kampar untuk maju terus pantang mundur untuk menentang penguasa  arogan yang tidak menjadi pelayan rakyatnya.
Dengan keputusan DPR yang sepakat untuk menurunkan pejabat arogan, merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi generasi bangsa demi demokrasi mendatang yang selama mestinya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk  rakyat bukannya dari rakyat, oleh negara dan untuk sebagian orang.
Dunia pendidikan akan tersenyum, tetapi masih menanti tahun 2009 yang baru menggelontorkan angaaran pendidikan sebesar 20 % dari APBN. Seperti yang diungkapkan ketua MPR kita Amin Rais di layar kaca TVRI sekitar jam 10 malam di acara Cempolo, berkata:  apabila saya dipercaya untuk memimpin negara ini akan melaksanakan amanatt rakyat yang menganggarkan 20 persen untuk pendidikan baik APBN maupun APBD. Jikalau hal tersebut dilaksanakan lebih dari cukup dana sekitar 70 trilyun untuk membangun sumber daya manusia kita, baik dari pondok sampai ke sekolah konvensional. Hal ini sangat ironis sekali kalau masih ada pejabat yang kalau ditanya masalah minimnya anggaran pendidikan, mereka kebakaran jenggot.
Masih adanya para guru untuk bersatu memperjuangkan anak didiknya untuk sedikit usaha meningkatkan kualitas pendidikan yang selama ini tertinggal jauh dari negara tetangga, patut kita sikapi secara arif dan bijaksana, disertai doa bersama untuk bangsa dan negara.
 Berjuang terus wahai teman guru demi anak bangsa, merupakan kewajiban kita bersama. Kita berjuang bukan untuk pribadi guru, melainkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Perjuangan guru memang tidak seperti kita menabung  uang sebulan dapat bunga, melainkan 10 - 20 tahun baru menuai hasilnya. Bagi mereka yang bijak tentu akan berpikir tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun bagaimana penerus kita ini tidak akan diperbudak oleh orang lain. Tidak seperti yang setiap hari kita dengar dan baca hanya berjuang atas perintah perutnya sendiri, untuk minta pesangon, juga mobil dinas yang masih layak untuk dipakai segera dilego untuk kepentingan sendiri, ngotot minta tunjangan Rumadin dan kesehatan dan lain-lain tidak bisa kita hitung.
Kami para guru yang berdemo mestinya mendapat dukungan dari semua khalayak ramai baik dari siswa, orang tua, masyarakat, pejabat swasta dan negara serta perusahaan dan pokoknya semua insan manusia yang bijaksana dengan  berotak jernih serta berhati susila.
Mari kita simak untuk apa guru berdemo. Ujung-ujungnya semua tuntutan guru berdemo yang menuntut gaji tinggi,  uang kesehatan mungkin uang transport dan perumahan atau mobil dinaspun,  apalagi menanyakan anggaran pendidikan yang dikerdilkan, saya pikir hanya berjuang  untuk anak bangsa yang sedang membutuhkan keberadaan dirinya diakui oleh bangsanya sediri maupun negara orang lain.
Seumpama demo guru ini meluas ke seluruh daerah, alangkah malu dan bangganya kita ini orang Indonesia. Malu karena selama ini guru sudah terlalu pasrah dengan nasibnya, sehingga kalau ada guru demo berarti sudah kelewat batas ketertindasannya.. Sedangkan rasa bangga, karena masih ada api dari kalbu guru yang bersinar untuk penerang sebuah kegelapan.
Sinar itu nampaknya akan dirasakan oleh masyarakat Jawa Timur, dengan adanya pendidikan gratis, dan kalau bisa harapan kita semua sampai ke jenjang SLTA. Sampai saat ini di Jawa timur yang sedang memprogramkan SPP gratis (PSBMP) partisipasi sumbangan biaya minimal pendidikan untuk SD, MI, SMP dan MTS (negeri dan swasta), sangat diharapkan oleh semua lapisan masyarakat.
Berbicara pendidikan tidak akan ada habisnya, sementara kriteria keterpurukan pendidikan  dapat dengan  mudah dan tidak berbelit belit bisa kita lihat jika : “Selama masih ada anak pandai, tetapi tidak bisa melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, karena terbentur biaya berarti pendidikan kita gagal total”.


Standar Operasional Masuk

 Ruang Kelas

Setiap awal tahun pelajaran baru ada nuansa baru tentang perilaku anak didik kita di setiap sekolah atau kampus. Ketika ada mahasiswa atau anak didik yang telat, inilah saatnya memberikan pelajaran kepada anak didik kita dan juga para mahasiswa.
Selama ini, di dunia pendidikan rasanya belum pernah mengenyam pelajaran cara masuk kantor atau ruang kelas.  Mungkin juga para pembaca yang telah telah menempuh sampai perguruan tinggi, mungkin juga belum pernah ada dosen atau guru memberikan pelajaran tentang caranya masuk ruang kelas.
Belum pernah saya menjumpai selama saya memberikan pelajaran di SMP atau perguruan tinggi menemukan anak atau mahasiswa yang memenuhi standar operasional masuk ruangan. Setiap berjuma dengan anak didik baru pasti ada pelajaran yang berharga bagi anak didik atau mahasiswa tentang cara masuk ruangan.
Ketika saya memberikan kuliah atau pelajaran dan ada anak yang telat seperti pasti anak ini akan menjadi penalaman yang sangat berharga dan mungkin tidak akan pernah terlupakan. Contohnya: tok..tok..tok Asalamualaikum ..Saya dan hamper semua anak didik atau mahasiswa menimpali “Waalaikumslam warohamatullohi wabarokatu” anak tersebut langsung masuk ruang kelas. Saya langsung berkata: “lho..siapa yang menyuruh masuk? “Hayo keluar!” dengan rasa malu dia langsung balik keluar ruangan. “Ayo ulang lagi” bagaimana cara masuk ruangan. Dialangi lagi sampai berkata: “asalamualaikum!”..anak anak dengan semakin kompakmenjawab “waalaikum salam”. Terus ditunggu sebentar anak tersebut tidak mau masuk, agak lama terus saya berkata: ”silakan masuk” dengan gagah dan percaya dirinya mereka/dia masuk langsung menuju tempat duduk. Namun langsung saya hentikan ketika mau duduk. “Mas” atau “Mbak” “siapa yang menyuruh anda duduk?” Dia terkejut dan tersipu malu kembali ke depan kelas. Disinilah akhirnya saya tawarkan keteman-temannya untuk menolong si pesakitan ini. “hayo siapa yang bisa menolong temannya ini untuk bisa lebih cepat duduk!” terdiam dan ada yang angkat tangan dan berkata “pak saya terlambat karena ini dan itu”, namun langsung saya menimpali “itu betul tapi belum baik”. Siapa lagi..siapa lagi ternyata satu kelas belum ada yang bisa membantu temannya untuk duduk. Biasanya saya berkata kepada anak-anak “kalimat yang pertama apa, sebelum anda mengatakan pak maaf saya terlambat”. Terdiam lama dan akhirnya saya mengatakan: “karena semua orang itu punya urusan pribadi maka anda harus berkata baik dan benar,  supaya yang anda ajak ngomong itu tidak marah, atau mungkin anda akan dicuekin. Hayo siapa?. Akhirnya dengan terpaksa saya mengucapkan: “pak maaf mengganggu, saya terlambat” baru mengatakan yang lainnya. “bolehkah saya mengikuti pelajarn ini, dan bolehkan saya duduk”.
Dengan rasa agak kesel anak tersebut duduk. Mungkin anak tersebut ngedumel dalam hati “untuk masuk dan duduk di bangku saja, ternyata ada pelajaran yang sangat melelahkan, namun mungkin juga sangat berharga.
Itulah pelajaran Standar Operasional Masuk Kelas dan Duduk di bangku. Sederhana namun kalau anda tidak mengetahuinya, yang kurang baik ini akan dilakukan terus menerus dan pada umumnya kebanyakan orang tidak merasakan kekurangannya.
Padahal, kalau anda mengetahuinya, percaya diri anda akan meningkat  untuk berhadapan dengan orang lain.


SEKOLAH BERNUANSA

PONDOK PESANTREN

Latar Belakang
Perubahan kurikulum dari 1994 menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004 menunjukkan perubahan yang esensial. Perubahan itu salah satunya diakibatkan kurang berhasilnya pendidikan masa lalu. Mutu pendidikan kita rendah, karena mengabaikan: Moral, Akhlak, Budi Pekerti dan Olah Raga serta Life Skill.
Pemerintah sekarang nampaknya betul – betul akan melaksanakan perubahan dengan rencana memasukkan materi kehidupan bebas KKN, yang akan diintegrasikan ke pelajaran Budi Pekerti atau pelajaran lain. Pembentukan watak yang anti korupsi harus dimulai sedini mungkin, sehingga anak betul sadar bahwa akibat korupsi bisa menghancurkan kehidupan negara.
Dengan mewujudkan tujuan pendidikan Nasional, perlu sekali kita mengkondisikan sekolah berwawasan pondok, dengan tujuan : Mencetak manusia jujur, mandiri dan kreatif, jadi anak yang sholeh dan sholehah serta bisa menghidupi dirinya.Minimal kalau anak tidak bisa melanjutkan pendidikannya, anak sudah berbekal ilmu agama yang cukup.
Dari kenyataan yang ada bahwa pengajaran Pendidikan Agama di SD dan SMP bahkan di SMA sangat tidak berhasil. Dari segi membaca Alquran banyak anak lulusan SD yang belum bisa menguasainya, bahkan SMP dan SMApun juga ada yang belum bisa membaca.
Ada tiga faktor yang harus segera mendapat perhatian yaitu faktor manusia, sarana dan program atau kurikulum yang ada.
Sumber daya manusia baik siswa maupun guru harus sama sepakat untuk melaksanakan / mengkondisikan sekolah yang bernuasnsa pondok.
Faktor untuk mewujudkan sekolah itu juga berfungsi sebagai pondok, perlu ada mushola   atau ruangan khusus yang bisa kita gunakan untuk sembahyang bersama, yang dilanjutkan kultum baik oleh guru/ustad maupun anak atau santrinya
       Setiap akan dimulainya pelajaran guru harus memberikan kultum (kuliah tujuh menit). Tidak harus memakai sumber Al Qur’an atau hadist, namun dari kehidupan sehari-hari kita bisa tularkan ke anak sehingga bisa membuat anak menjadi anak yang sholih dan sholihah. Pastikan predikat guru dapat menjadi seorang “Ustad”.
       Dengan demikian peran guru sekarang tidak hanya sebagai fasilitator, namun masih dibebani sebagai profesi Ustad. Sebagi ustad tentunya akan mewarnai pola tingkah laku yang diemban untuk membentuk budi pekerti anak, sehingga  sekolah memposisikan sebagai pondok, sedangkan guru jadi ustad dan muridpun berperan sebagai santri.
Bagaimana implementasinya ?. guru tidak kemana-mana, tetapi berada dimana-mana. Untuk mempercepat tujuan membentuk manusia bermoral bagus, berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur, bisa kita integrasikan di setiap pelajaran, namun juga bisa menjadi satu paket mata pelajaran, kita perlu belajar ke pondok pesantren untuk melihat secara langsung bagaiman  aspek kognitif serta ketrampilan juga sikap/afektif mereka relatif berhasil.
Guru sebagai ustad dituntut harus bisa memberikan nasehat/kultum/kulim (kuliah lima menit) di awal pelajaran. Kalau semua guru bertindak demikian, ranah afektif secara umum akan mudah dan cepat tercapai. Kultum/kulim bisa sebagai pemanasan yang tidak  memakan waktu lama harus ada, namun dampaknya dikelak dikemudian hari generasi itu akan tidak membuat masalah dan bahkan akan memecahkan masalah. Tidak seperti sekarang ini yang cenderung membuat masalah, karena kurangnya perhatian dan pekerjaan, sambil mencari jati diri yang kurang pasti.
Berikan contoh seperti : kalau mau pergi harus pamit dan cium tangan sebelum berangkat, cuci tangan sebelum makan, berdoa sebelum mulai belajar, dsb, dsb, sehingga tidak akan kekurangan materi khotbah. Sedangkan  alquran dan hadits sebagai rujukan kulim/kultum memang  perlu untuk memantapkan ilmu yang kita berikan. Ada hadis mengatakan “sampaikan walaupun hanya satu ayat”
3.   Anak
Anak adalah tumpuhan masa depan bangsa. Kalau kita mempersiapkan sedini mungkin kita orbitkan menjadi anak yang sholeh dan sholehan akan menjadi generasi yang siap memimpin negaranya sendiri dan siap bersaing dengan negara lain
Kondisikan “Siswa ya  Santri”
4. Faktor Dominan Menciptakan Suasana Sekolah Bernuansa Pondok
Untuk mengkondisikan suasana yang bernuansa pondok perlu waktu untuk mensosialisasikannya. Sosialisai  di kelas sangat membantu mempercepat tujuan yang kita inginkan selain di dalam upacara tiap hari senin.
a. Budaya Jabat Tangan
Jabat tangan atau dua tangan saling berjabatan, agaknya sudah menjadi bahasa universal, yang melambangkan adanya komunikasi batin antara pemilik tangan yang satu dengan pemilik tangan yang lain. Kalau ada orang ketemu dan ingin menjalin komunikasi, jabat tanganlah yang menjadi lambang bertemunya dua hati. Meskipun keduanya tidak saling mengerti bahasa masing-masing, karena ada Ligua franca yang bisa menjembatani. Komunikasi dua hati saling mengandung ucapan, “ Perkenalkanlah aku yang siap menjadi sahabatnu “ (Jawa Pos, Minggu, 7 Nopember 2004 hal. 5).
Budaya jabat tangan antara siswa atau santri juga guru menjadikan warna kehidupan keluarga besar SMP 2 Bendo. Sebelum masuk kelas dan akan pulang diwajibkan anak untuk berjabat tangan dengan ustad / ustadhahnya sambil cium tangan. Makna dalam jabat tangan, betapa kaya perspektif, dimensi dan kedalaman yang akan berkembang dalam diri seseorang, asalkan dilakukan dengan kejernihan fitrah. Berbeda kalau jabat tangan hanya dilakukan dengan basa – basi, ditandai dengan bibir saling tersenyum tetapi hati saling mencibir, tidak akan menjamin berhembusnya angin perdamaian, kasih sayang antara orang tua dengan anak dan rasa saling bersalah karena berangkat dari kedangkalan rokhani yang hampa makna.
Diharapkan dengan saling jabat tangan, akan timbul rasa kekeluargaan yang    erat, sehingga bagaikan yang satu sakit akan terasa semua di masyarakat SMP  2 Bendo.
b. Budaya Mengucap Salam
Salam ( asalamu “alaikum … atau selamat pagi, siang ) yang terlontar setiap ada pertemuan dua sejoli atau lebih akan menumbuh kembangkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang erat, sehingga akan menimbulkan perasaan damai diantara insan yang berjumpa.
 c. Budaya Tidak Ngerpek/Jujur
Kejujuran adalah perbuatan mulia yang perlu ditumbuh kembangkan pada setiap generasi muda yang akan  menggantikan kita di masa yang akan datang. Sedini mungkin anak harus dikondisikan untuk berbuat jujur, perbuatan ngerpek di dunia pendidikan merupakan awal biang keroknya kejahatan.
Budaya malu bertanya saat menjalani ulangan akan menjadikan warna untuk mendidik anak jujur dan mandiri.
 d. budaya Berdoa dan Membaca Surat Pendek Sebelum Pelajaran  Dimulai
Sebelum pelajaran dimulai di awal pelajaran diwajibkan untuk berdoa dan dilanjutkan membaca surat – surat pendek Al Qur’an dari juz Amma.
Diharapkan setelah lulus sekolah, anak hafal 38 surat yang ada di Zus Amma.
e.  Budaya Membaca.
Ketika diturunkan wahyu Tuhan untuk pertama kalinya, yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, Jibril berkata “Iqro” ( bacalah ). Ma Aqro ? ( tetapi apa yang harus dibaca ? ) tanya Nabi … pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut “ Bismi Rabikka “ dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan “, perintah untuk membaca adalah langsung diturunkan oleh Tuhan. Membaca adalah awal mulanya suatu ilmu pengetahuan, tehnologi dan seni dan keberhasilan manusia. Budaya membaca sebelum pelajaran dimulai dan pada waktu istirahat menjadikan icon SMP 2 Takeran. Dengan kebiasaan tersebut akhirnya anak menjadi gemar membaca.
Bagi anak yang belum bisa membaca Alquran disediakan waktu khusus untuk memberikan bimbingan sampai anak lancar membaca.
F. Disiplin dan Bersih
Sekolah kami mengutamakan kebersihan. Dengan moto 3B yaitu Bersih Diri, Bersih Ruangan dan Bersih Lingkungan. Untuk menjadikan anak nyaman dan betah di sekolah, kebersihan harus dijaga bersama.
Disiplin juga merupakan keharusan untuk mensukseskan semua tujuan dengan lancar.
g.   Budaya Bertanya
Malu bertanya sesat di jalan. Mayoritas siswa kita malas untuk mengemukakan pendapat, karena juga diawali takut dan malas bertanya. Budaya bertanya harus segera digalakkan, sehingga anak gemar mengungkapkan pendapat sesuai dengan metode / cara mereka masing –masing.
Di kelas seorang guru harus memberikan kesempatan anak untuk bertanya. Pada awalnya siswa sulit untuk bertanya, dengan kebebasan dan kewajiban bertanya setiap ada tatap muka, diharapkan anak timbul inisiatif untuk gemar bertanya.
H. Sopan Santun
Sopan santun perlu dibudi dayakan, sehingga membentuk pribadi yang santun dalam tutur kata dan sopan dalam tingka laku sesuai dengan norma yang berklaku dalam masyarakat.
“Berbuatlah kepada orang lain seperti anda ingin orang lain berbuat kepada anda”

Kesimpulan
Sumber daya manusia yang bermental Arab dan bertehnologi Jerman adalah harapan semua insan manusia. Mudah-mudahan dengan sekolah yang bernuansa pondok, menghasilkan out put yang bermoral dan beraklak mulia, serta mandiri yang siap menghadapi tantangan jaman.
Seperti pendidikan kita yang sementara ini  mengabaikan aspek :  Moral, akhlak,   budi pekerti; seni dan olah raga, serta life skill  sangat mengharapkan dengan perubahan kurikulum dari 1994 menjadi kurikulum 2004 (KBK), bisa menjadikan generasi yang mandiri dan berbudaya serta berakhlak mulia.
            Keterbatasan seseorang sangatlah wajar, sehingga ide atau gagasan ini masih banyak kekurangan, sehingga mengharap para pembaca yang budiman untuk sudi memberikan kritik dan saran demi kesempurnaan gagasan yang jauh dari sempurna ini.
            Substansi pendidikan kita mengharap dengan sangat bahwa masa depan bangsa kita yang berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia dan bermoral tinggi, bisa terwujud apabila sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan berhasil mengkondisikan sekolah bagaikan pondok.


IPROLUGUSALOBINIL

Pendahuluan
Para pembaca yang sebagian besar bergelut dengan dunia pendidikan akan semakin khawatir dengan perkembangan dunia pendidikan kita. Dari serangkaian unas yang telah terlaksana, meninggalkan berbagai kasus yang ujungnya pada kecurangan UAN dengan berbagai metode. Untuk menghilangkan dan menuntaskan kecurangan tersebut, satu-satunya jalan hanya dengan membuat soal 20 paket, sehingga tiap anak akan mengerjakan soal yang berbeda. Jadi tidak perlu  ada TPI (Tim Pemantau Independen).
            Apa itu IPROLUGUSALOBINIL?. Kata ini penulis rangkai ketika sedang mengikuti workshop SSN di Malang. Selama mengikuti pembekalan rintisan sekolah standar nasional, ada 8 standar pendidikan yaitu penulis singkat jasi satu kata yaitu Iprolugusalobinil merupakan kepanjangan dari 8 standar pendidikan, yang terdiri dari :
1. Standar I (isi), 2 Pro (standar proses), 3. Lu (standar Lulusan), 4. Gu (Standar guru atau pendidik dan Tenaga kependidikan), 5. Sa (standar Sarana), 6. Lo (Standar Pengelolaan), 7. Bi (standar Pembiayaan), dan 8. Nil (standar Penilaian). Alangkah mudah dan sederhananya 8 standar ini dihapal dengan urut dan cepat hanya butuh waktu  tidah lebih dari satu menit. Hapalan ini dikenal dengan nama jembatan keledai atau mnemonic.
Para pembaca yang budiman sudah waktunya kita para pembelajar (guru) untuk memberikan pelayanan yang memuaskan dan tidak membosankan pada para anak didik kita. Para guru selain menyampaikan materi ajar juga harus bias memberikan jalan keluar bagaimana cara memahami materi pembelajaran dengan efektif dan efisien, menyenangkan serta tahan lama. Salah satu cara tersebut adalah metode menghapal dengan jembatan keledai (mnemonic).
Metode ini sudah lama dikenal namun hanya sebagian kecil menggunakannya entah karena tidak tahu atau malas menggunakannya. Metode ini keuntungannya sangat luar biasa dari segi hapalan. Seperti yang panulis peroleh ketika belajar di SPG dulu tahun 1980an sampai sekarang masih ingat dan hapal diluar kepala, seperti asas pembangunan disingkat MUDA PKK.  M (asas manfaat), U (usaha bersama), D (demokrasi), A (adil dan sebagainya). Ada juga 5K disingkat ABTIK (Keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan dan kekeluargaan) dan masih banya lagi yang lainnya.
Para pendidik yang budiman mari kita perbaiki kinerja kita untuk menjadi guru yang propesional, dengan  harapan apa yang diinginkan oleh para penguasa untuk menambah satu kali gaji dengan sertifikasi tidak menjadi kendala untuk mendapatkannya. Salah satunya dengan cara mnemonic, yaitu cara jitu untuk mengingat urutan materi yang banyak serta sigkat untuk diucapkan.
                     


OSIS TERHEBAT

Kemampuan anak memang berbeda. Tidak hanya kemampuan akademis saja yang terhebat. Namun kemampuan komunikasi itupun bisa menjadikan orang itu hebat. Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh orang Jerman, bahwa sukses itu banyak ditentukan oleh sikap mental, bukannya kemampuan akademis.
Dari kenyataan tersebut, menjadi pengurus OSIS adalah salah satu penggemblengan anak didik dalam menempa mental.  Tidak kita pungkiri bahwa hasil dari pendidikan di negeri ini banyak membentuk pengetahuan teknis sehingga banyak dari anak kita belum siap untuk menjadi orang sukses. Mengapa demikian, karena anak didik kita hanya mendapatkan sikap mental sekitar15 %. 
Ternyata sekian dari anak kita itu mempunyai sikap mental yang luar biasa. Ada beberapa anak dari OSIS SMPN 1 Takeran tahun ajaran 2010/2011 sangat luar biasa. Mereka berhasil membawa acara Ulang Tahun sekolahnya meriah dan berbeda sekali. Bukan berbeda acaranya, tetapi berbeda dalam mencari dananya. Mereka menjual sticker dan tanggalan sampai ke ketua DPR. Dan ternyata mereka berhasil mendapatkan dana sekitar 6 juta.
Pada hari pertama mencari dana, mereka yang berjumlah tiga anak yaitu: Desy, Triana dan ketua OSISnya Widya menuju ke Dinas Pendidikan Kabupaten Magetan. Sedangkan sopirnya adalah kepala sekolahnya ya yang nulis buku ini. Penulis hanya bertindak sebagai sopir mengantarkan kemana saja perginya. Ketika masuk kantor Penulis hanya yang menunggu di luar. Terkadang penulis baru dipanggil setelah mereka berhasil mendapatkan dana. Dari pengalaman pertama, mereka mendapatkan uang sebesar Rp. 750.000. mereka sangat senang dan bahkan mereka bersemangat untuk mendatangi orang nomor satu di Kabupaten Magetan. Namun hal tersebut tidak jadi karena protokoler. Sehingga menjatuhkan pilihan ke DPR.
Ketika masuk gedung DPR, penulis bilang inilah rumah rakyat. Silahkan anda bercita-cita menjadi DPR, berpose di depan mobil dinas DPR (www.....). Ketika di gedung yang mewah itu pinginnya bertemu dengan ketua DPR, namun akhirnya hanya ditemui oleh wakil ketua 1 DPR. Sementara penulis menunggu di luar, yang akhirnya panulis disuruh ke dalam. Dalam obrolannya sering memuji pada ketiga anak tersbut. Dia bilang anda sepantasnya menjadi anak SMA. Beliau Bapak .... bercerita memberikan pelajaran banyak bagaimana menjadi orang sukses.
Tujuan berikutnya adalah para alumni yang sukses. Karena banyak alumni yang menjadi kepala desa, maka mereka keliling dan menjalin silaturohmi dengan maksud mendapatkan dana dan informasi dari beliaunya. Ternyata metode itu sangat membantu untuk mendapatkan informasi siapa saja yang pantas untuk dimintai sumbangan. Akhirnya semakin banyak daftar nama yang perlu di hubungi, bahkan beliuanya yang ikut mencarikan dana. Akhirnya terkumpul 6 juta rupiah dan berbagai hadiah yang langsung diberikan oleh para donatur.
Dari pelajaran tersebut, penulis hanya menginginkan anak didiknya tidak hanya pandai mengolah otak, namun juga mengolah hati. Bahkan olah hati inilah yang pada akhirnya manjadi pembentuk sikap mental untuk pengendali diri. Pelajaran ini sangat berharga bagi anak didik juga penulis. Anak semakin percaya diri dan tidak canggung menhadap baik itu pejabat, pengusaha bahkan siapapun yang dia inginkan.
Hebat anakku.....engkau memang hebat...


Waktu adalah Pedang...!

"Al-waqtu kas-saif illam-taqtho'hu qatha'aka". Waktu ibarat pedang, jika kamu tidak memotongnya, niscaya pedang itu yang akan memotongmu.."
Kita termasuk orang yang merugi ketika kita tidak dapat menggunakan waktu dengan baik. Dalam tafsir surat Al- Ashr’ yang artinya .. Demi masa,[1]. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,[2]. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”[3] Dalam Islam, waktu bagaikan pedang. Barang siapa tidak dapat menggunakan pedang dengan sebaik-baiknya, maka pedang tersebut akan melukai kita, yang berarti bisa mendatangkan dosa. Apakah kita tidak merugi apabila waktu luang yang ada hanya digunakan untuk ngerumpi yang ujung-ujungnya menggunjing orang lain. Alangkah indah dan bermanfaatnya jika waktu luang itu kita gunakan untuk membaca.
Sebenarnya kita sebagai orang Islam sudah tidak asing lagi dengan surat yang pertama kali turun di gua Hira’ yaitu surat Al Alaq. Mengenali dan membaca Wahyu Tuhan yang diturunkan pertama kalinya, yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, Jibril berkata: “Iqra’ ” (bacalah), :Ma aqra’?” (tetapi apa yang harus dibaca?) tanya Nabi – pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut “Bismi Rabbika”, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan (Ary Ginanjar A. ESQ . hal :120). Berkata Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsirnya: “Tidak didapat kata-kata yang lebih mendalam dan alasan yang lebih sempurna daripada ayat ini di dalam menyatakan kepentingan membaca dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan bahagianya. Dengan itu pula dibuka segala wahyu yang akan turun di belakang.”
Tetapi mengapa bangsa kita yang mayoritas beragama Islam belum menjadikan membaca (Iqra’) sebagai pembiasaan sehari-hari. Taufiq Ismail seorang sastrawan Indonesia yang terkenal mengatakan bahwa. “Kita telah menjadi bangsa yang rabun membaca buku dan lumpuh menulis”. Alangkah ruginya kalau waktu luang  terbuang percuma, seperti: ketika kita sedang antri di bank, antri membayar pajak, menunggu istri belanja, naik kereta api, menunggu teman, di rumah sakit dll. Seharusnya sebagai pemeluk agama Islam, kita gunakan waktu untuk membaca agar bertambah ilmunya.
Berbeda dengan orang Jepang dan negara-negara maju lainnya, mereka selalu membawa buku kemana dan dimanapun berada untuk mengisi waktu ketika ada kesempatan. Kita dapat melihat ketika mereka naik pesawat dan kereta api, mereka selalu membaca entah itu peta atau bacaan ringan.
Terutama dikalangan pendidik, marilah generasi anak bangsa ini kita biasakan membaca menjadi hiasan kegiatan sehari-hari.  Budaya gemar membaca ini akan sangat efektif ketika orang tua dan guru selalu berkolaborasi untuk saling mendukung. Apalagi pemerintah, kantor serta instansi-istasnsi semuanya memberikan buku bacaan, koran dsb untuk mengisi waktu demi waktu itu.
Di bulan puasa yang penuh kebaikan dan barakah ini, tidur saja berpahala. Jadi lebih baik tidur dari pada kita menggunakan waktu yang pada akhirnya mendatang dosa. Tetapi akan lebih berpahala lagi jika kita gunakan waktu itu untuk membaca.
Jadi dengan membaca, kita dapat memanfaatkan pedang untuk menghindari diri dari dosa.



KONDISIKAN DULU

BARU MELANJUTKAN MATERI PELAJARAN

Menghadapi siswa berbeda sekali dengan menghadapi barang. Barang kali kita sangat perlu untuk menyesuaikan kondisi anak dengan berbagai cara, sehingga anak akan terbawa ke arah mana yang kita inginkan.
            Dalam dunia pendidikan banyak sekali libur panjang yang lamanya melebihi satu minggu. Dalam hal ini penulis ingin mencoba menyampaikan pengalaman yang berhubungan dengan “bagaimana memulai pelajaran setelah anak menjalani libur panjang”, bahkan setiap memulai pelajaranpun sebaiknya kita mengkondisikan si anak sehingga betul siap dan bahkan usahakn mereka tidak merasa kalau kita sudah memberikan materi pelajaran. Kalau prei agak panjang mungkin kita bisa menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan hari libur tersebut, sehingga anak betul-betul menyesuaikan dan merasa diperhatikan serta siap untuk menerima materi pelajaran. Guru harus pandai membawakan dirinya untuk tidak dihapali siswanya dalam menyampaikan meteri pelajarannya. Pada waktu penulis masih sekolah sering memberikan julukan pada guru yang melakukan perbuatan atau bicara dengan kata-kata yang sama. Seperti Pak lantas, karena sering sekali dalam mengajar dia menggunakan kata lantas, juga sering sekali menulis berapa banyak guru tersebut memakai kata tertentu dalam satu tatap muka. Hin
 Setelah menjadi guru penulis berusaha untuk menghindari hal-hal yang dihapali siswa. Usahakan kalau bisa anak jangan sampai mengetahui ciri dalam mengajar salah seorang guru. Kalau anak sudah mengetahui ciri seorang guru, mereka akan melakukan kegiatan yang sesuai dengan karakter guru tersebut. Contoh : anak sering bergerombol didepan kelas karena gurunya selalu menggunakan kesempatan untuk korupsi waktu. Ada juga anak tidak mengerjakan PR karena gurunya tidak memperhatikannya/ mengoreksinya.
Berikan kepercayaan kepada mereka sepenuhnya sehingga mereka bisa malakukan dan mengerjakan sesuatu tanpa perintah, baru kalau ada masalah timbul dan kesulitan menghadang siswa, kita sebagai tutor berusaha untuk membantu memecahkannya.
Kita perlu saat  mulai pelajaran tanpa liburpun harus memberikan suasan yang membawa anak tertarik pada materi pelajaran apalagi merupakan bab baru. Selama libur panjang pikiran anak tentu juga istrirahat bahkan tidak jarang anak malas untuk membuka buku pelajaran. Sehingga anak perlu diajak untuk mengebalikan kekondisi atau pemanasan untuk siap menerima pelajaran. Anak sangat senang untuk diajak ceritera singkat tentang pengalaman yang telah dilakukan selama libur, bahkan untuk membuat surprise alangkah baiknya ditunjuk salah satu untuk bercerita di depan kelas atau menulis bersama selama sepuluh menit menceriterakan tentang apa yang dialami selama liburan. Di sini guru dituntut harus mampu untuk mengembalikan suasana belajar yang kondusif, sehingga enak diajak komunikasi mudah dalam mengawali materi yang akan mereka terima.
   Dalam hal ini penulis akan mencoba kapan guru harus  menkondisikan siswa, sehingga siswa betul-betul siap menerima materi yang akan diajarkan: 1. Pada awal mereka masuk kelas satu. 2. Pada saat kenaikan kelas. 3. Pada saat ganti guru baru. 4. Setelah libur panjang maupun pendek Tetapi bukannya hanya waktu itu saja yang akan kita lakukan, namun ke 5 (lima) setiap awal pelajaran kita harus membiasakan diri untuk membawakannya sehingga anak tertarik pada materi pelajaran.
   Dari kondisi gurupun kalau kita langsung tancap gas untuk memberikan materi secara total, apalagi guru yang memerlukan banyak cerita seperti pelajaran sejarah, agama, geografi, PPKN dsb.akan terjadi gangguan pada alat suara, seperti serak dan bahkan bisa hilang suaranya.
Melihat kenyataan ini kita harus menyadari pentingnya pemanasan baik bagi guru maupun anak didik, sehingga bisa berjalan lancar. Dalam dunia pendidikan kita harus mengetahui dan bisa membuat anak betul-betul siap untuk menerima pelajaran. Jangan mulai pelajaran sebelum anak dalam kondisi siap segalanaya. Berikan cerita-cerita yang ringan sehingga anak secara tidak sadar terbawa kearah materi yang akan kita bawakan. Kalau anak sudah terbawa arus materi pelajaran mudahlah kita untuk memasukkan materi yang akan kita berikan sehingga akan mengahasilkan daya serap yang optimal.
Yang ideal anak dan guru tidak merasa kalau kita sudah menjalankan proses belajar mengajar selama dua jam, ukuran kita mata pelajaran dengan durasi dua  jam pelajaran diraskan seperti satu jam pelajaran. Hal demikian anak tidak akan tersa kalau waktu begitu cepat dan bahkan tidak merasa kalau mereka sudah diajar/di didik selama dua (2) jam pelajaran. Kalau kita merasa terlalu lama dalam mengajar berarti kemungkinan kehabisan materi juga bisa disebabkan  kurang cocoknya metode yang kita terapkan sehingga anak tidak begitu tertarik yang mengakibatkan kita sendiri merasakan terlalu lama dalam memberikan materi disuatu kelas.
 Dengan kita mengkondisikan sebelum melanjutkan materi, diharapkan :
-     Anak tidak merasa bahwa materi pelajaran sudah dimulai.
-          Anak akan merasa tidak bosan bagaikan dua (2) jam pelajaran terasa hanya satu (1) jam pelajaran.
-          Anak merasa senang sehingga minta untuk ditambah waktunya, karena saking semangatnya untuk mengikuti pelajaran.
-          Kondisi inilah yang diinginkan sehingga begitu sehari guru maupun muridnya tak ketemu, terasa kangen dan rindu adanya.
-          Bisa menimbulkan sosok seorang pendidik yang diidamkan (idola) anak, kerabat kerja, lingkungannya sampai masyarakat sekitar, sehingga dimanapun keberadannya selalu dinanti dan kehilangannya tidak diminati.
-          Membuat seorang guru tidak ke mana-mana, tetapi dirasa siswa ada di mana-mana.
Demikian nampaknya hal ini merupakan langkah yang sepele dan kebanyakan guru meninggalkannya, tetapi hal tersebut akan sangat memberikan corak kita dihadapan siswa.
Proses pendahuluan dalam memberikan materi pelajaran nampaknya main-main, tetapi hasilnya bukan main-main.


GAJI PERTAMA

UNTUK 24 JAM MENGAJAR,

 GAJI TPP UNTUK LINTAS SEKTORAL

Dunia pendidikan  kita mulai menjadi perhatian dunia lain. Banyak yang mencibir kinerja guru tak layak untuk ditambahi tunjangan satu kali gaji. Dari segi waktu memang masih banyak yang kurang memenuhi. Sebab sebagian besar guru pulang dari sekolah di bawah jam 13.00.
Banyaknya guru yang sudah terlanjur dipasung dengan kesederhanaan dan longgarnya waktu dimasa lalu, merupakan karakter yang sulit untuk di ajak bekerja keras. Perubahan sekarang yang menuntut guru untuk bekerja lebih dengan pekerjaan tanpa batas merupakan hal baru yang mereka hadapi. Banyak yang masih sulit untuk diajak berubah dengan cepat. Apalagi yang mendekati pensiun.
Terlalu lamanya mereka berpola pikir bahwa jadi guru itu hanya menyampaikan ilmu selesailah sudah, membuat mereka sulit bahwa perilaku, tindakan dan pemikiran serta amaliah mereka harus dicontohkan untuk anak didiknya. Pekerjaan ini membutuhkan keterbukaan yang senantiasa bekerja tanpa batas dari segala lintas kehidupan untuk anak didik kita.
Era reformasi yang saat ini menggelinding di semua lini kehidupan, mestinya gurupun harus berkaca untuk mengikuti perubahan jaman. Dengan digulirkannya TPP guru harus berubah dari yang hanya mengajar sudah bisa ditinggal, untuk sekarang mengajar tanpa batas waktu dan tempat. Dimanapun mereka berdada harus mencerminkan tuntunan dan tontonan untuk dijadikan model anak didik menatap masa depannya.
Seorang guru yang hanya berhenti setelah mengajar, itu hanya cocok untuk mendapatkan gaji pertama. Sedangkan untuk gaji TPP mereka harus bekerja lnta sektoran yang meliputi perilaku, tindakan dan amalan yang dapat ditiru dan menjadi panutan anak didiknya.
Jadi pertanggung jawaban gaji TPP lah yang merupakan pekerjaan paling berat bagi guru. Mereka bekerja tanpa batas dimanapun berada mereka siap untuk member, mencermati, meneliti, mengoreksi, menginspirasi, memotivasi, mengajak, meneladani, melakukan apa saja yang dibutuhkan siswa bagaikan manusia super yang dapat meladeni semua kehidupan yang dibutuhkan anak didiknya.




Belajar Disini 200%

Untuk meningkatkan penguatan pengalaman belajar khususnya anggota OSIS baru, kami melakukan kunjungan belajar atau study banding ke Pondok Gontor. Di sana diterima dengan senang hati dan merupakan tamu yang sangat istimewa. Mengapa? Karena kami ini dianggap aneh dan ajaib. Biasanya tamu ke sini itu berasal dari kota-kota besar dan jauh dari tempat ini. Dari bandung Banjarmasin Jakarta dll. La kok ini dari Magetan kok “ Njanur gunung “.
Rombongan kami dibuat malu oleh penerima tamu. Namun kami tetap bersemangat ingin menimba ilmu dari Pondok Gontor. Dengan segala keingin tahuan dan kerendaha hati kami diajak ke berbagai tempat dan keiatan anak atau santriwan di berbagai kegiatan.
Kami banyak memperoleh ilmu yang dapat diterapkan di sekolah walaupun tidak semuanya, diantaranya:
1.   Disiplin santriwan sangat tingggi. Mereka menghukum sendiri jika melakukan kesalahan.
2.   Ketika antrian tidak ada yang menyerobot dan bahkan tidak ada suara klothekan, walaupun membawa piring tempat makan
3.   Ketika sholat luhur baju masuk dan disabuki. Ketika ada orang yang bajunya keluar berarti bukan santriwan gontor, alias orang lain.
4.   Adik tingkat selalu patuh pada kakak kelasnya.
Itulah sekelumit cerita dari Pondok Modern Gontor Ponorogo. Semoga bermanfaat dan dapat menjadikan anak-anak didik yang lainnya bisa menirukan apa yang mereka lihat. Dan lebih penting lagi OSIS yang study banding di Pondok  Gontor dapat menularkan kepada teman-temannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

buku 4

Saudaraku Jangan Kau Hasad