BB 1 PERAN GURU


 




Bagian

Bagian
1
 
 I







PERAN GURU

DALAM PENDIDIKAN



GURU ITU PENAKUT

Masih adakah guru yang takut dengan anak didiknya? Jawabannya ternyata masih ada. Guru yang tidak bisa mengendalikan kelas itu termasuk salah satu kriteria guru yang takut dengan anak didiknya. Ketika ada anak didik yang mendengar bel masuk sekolah dan anak tersebut masih berkeliaran di luar kelas, maka itu juga termasuk guru takut murid. Apalagi jika kelas ramai, tetapi bukan ramai karena belajar atau diskusi, maka itu juga tanda-tanda guru takut murid. Ketika ada murid melanggar peraturan dan guru tidak mau memberi teguran atau peringatan, berarti guru itu takut murid.
Mengapa guru takut?. Karena tidak punya kemampuan untuk berani. Mengapa tidak berani? Karena tidak punya ilmu. Mengapa tidak punya ilmu karena dia tidak mau belajar. Mengapa tidak mau belajar mereka merasa sudah pandai. Disinilah bapak ibu, letak permaslahan yang sering menjadi kendala untuk guru itu berkualitas. Mereka sudah terlanjur membenarkan yang biasa, bukanya membiasakan yang benar.
Kenakalan anak didik itu urusan pembina OSIS dan Guru BP. Pendapat itu ada dimana-mana. Umumnya guru yang takut itu beralasan bukan urusannya. Pada hal semua orang tua berhak untuk memberikan contoh dan menasehati atau menegur apabila anak didik atau genersi penerus malakukan kekeliruan atau melnggar aturan. Jadi orang yang ilmunya banyak dan peduli itulah orang yang berani atau tidak takut.
Bapak ibu guru yang sangat mulia, mari kita mengintip acara televisi yang berjudul Suami Takut Istri. Apa ada juga yang namanya guru takut murid? Kalau melihat substansi acara tersebut, ternyata guru pun juga masih banyak yang takut dengan muridnya. Di kejadian sehari-hari, guru kita juga enggan untuk bertindak dan berubah karena ada rasa ketakutan dan kurang percaya diri. Bagaimana murid dapat tertib kalau mereka melanggar peraturan tapi guru hanya diam saja? Tak bisa dipungkiri, itulah sebagian profil guru kita saat ini.


Guru Itu Juweh

Image result for guru itu cerewetOrang bilang juweh itu adalah orang yang selalu ngomong terus,bahkan setiap ada sesuatu yang dilihat selalu di komentari. Ibaratnya “lambe sak tumang dadi sak merang”. Karena terlalu banyak ngomong sehingga bibir yang semula tebal bisa menjadi tipis. Itulah gambaran orang cerewet atau juweh.
Bagaimana dengan guru yang cerewet atau juweh? Sebaiknya memang guru itu cerewet. Kenapa? Bukan cerewet untuk menyampaikan sesuatu dalam pembelajaran, namun cerewet dalam memberikan peringatan terhadap anak didik yang melakukan kesalahan atau melanggar peraturan. Apabila guru tahu ada anak didik melakukan kesalahan atau melanggar aturan, si guru harus memberikan perhatian, peringatan, dan kalau perlu diberi sanksi. Dengan dimikian anak akan selalu mengikuti aturan yang disepakati oleh guru tersebut juga aturan  yang ada di sekolah.
Saat ini para guru sedang dilanda kegelisahan yang sangat luar biasa. Dalam lubuh hati terdalam, guru tidak mau anak didiknya tidak pintar dan tidak mempunyai akhlak mulia yang hebat. Anak yang berakhlak mulia merupakan impian dari semua pihak baik orang tua, guru, masyarakat serta dunia kerja maupun pemerintah. Semuanya  mengharapkan seluruh generasi muda harus mempunyai karakter dan berakhlak mulia.
Bangsa Indonesia sangat menginginkan generasi mudanya mempunyai karakter yang hebat untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dari generasi tua. Jika generasi muda ini tidak berkarakter, negara kita akan menjadi bulan bulanan negara asing. Bahkan saat ini tenaga asing mulai membanjiri negara kita. Lama kelamaan kita akan dijajah oleh negara asing dan kita akan menjadi pembantu di rumah sendiri.
Peran guru saat ini sangat penting untuk mepersiapkan generasi mendatang untuk menjadi pemimpin di negerinya sendiri. Guru harus juweh alias cerewet untuk selalu memberikan nasihat kepada anak didiknya agar kelak menjadi pemimpin bangsa yang berkarakter dan berakhlak mulia.


GURU ITU SAHABAT

Guru itu sahabat. Setiap hari menghadapi problematika yang beraneka ragam. Menjadi guru itu menyenangkan dan mengasyikkan. Jikalau seorang guru memandang anak didiknya bagaikan anaknya sendiri, maka akan muncul kedekatan yang sangat luar biasa. Anak menjadi aman didekatnya dan berdiri berjajar tanpa batas.
Dalam keseharian yang tanpa batas terkadang bisa juga menimbulkan problematika baru bagi guru. Kedekatan guru dengan anak didiknya terkadang menjadikan anak kurang sopan kepada guru. Kedekatan harus ditumbuhkembangkan, namun persahabatan itu jangan sampai merusak sikap anak untuk tidak menghargai gurunya. Anak didik tetaplah seorang anak dan harus hormati kepada siapa saja yang dianggap lebih tua. Pada prinsipnya yang muda harus menghormati yang lebih tua.
Saat ini banyak guru yang kurang bersahabat. Diantaranya:
1.     Guru hanya fokus pada penyampaian meteri yang diampunya.
2.     Guru tidak punya keahlian dalam memberikan motivasi. Sehingga   materi yang diberikan belum bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3.     Sebagian besar guru kita tidak mempunyai kemampuan dibidang agama sehingga pendekatannya hanya berdasarkankan pengalamannya sendiri.
4.     Banyaknya lembaga swadaya masyarakat yang selalu memberikan perlindungan terhadap anak didik di sekolah, membuat guru pasrah tidak mau repot untuk membuat anak didik berubah.
Alangkah hebatnya jika guru dapat memberikan wejangan atau nasihat untuk bekal hidup dikemudian hari. Hubungan itu harus dijadikan momentum untuk menjalin komunikasi dengan peserta didiknya. Kalau guru sudah menjadi sahabat anak didik, dengan sendirinya anak didik akan mengikuti irama gurunya. Apapun yang diinginkan gurunya, anak didik akan menurutinya selama ilmu yang diberikan bermanfaat untuk dunia dan akhirat.


GURU ITU PENASIHAT

                                                                                                                                    Guru itu penasihat. Semua masalah yang dihadapi anak didiknya pasti akan berusaha untuk dipecahkannya. Usahakan nasihat itu bisa diterima oleh semua anak didik kita sesuai dengan permasalahan yang ada.
            Nasihat secara klasikal sering kita lakukan pada awal pelajaran dan juga pada akhir pembelajaran. Pada awal pembelajaran secara umum menasihati kejadian pra pembelajaran dan memberikan nasihat untuk masuk ke materi pembelajaran sehingga anak didik kita tidak terasa kalau pelajaran sudah mulai masuk pada materi yang diajarkan.
Semua nasihat sebaiknya diberikan kepada anak didiknya sesuai denga kondisi masing-masing anak. Bagaimana adab memberikan nasihat perlu memperhatikan beberapa hal seperti:
  1. Ikhlas
Keutamaan dalam memberikan nasihat adalah ikhlas. Niat dari dalam yang hanya semata-mata untuk mengahrapkan ridho Allah SWT dapat menjadikan anak didik terasa nyaman dan mudah diterima serta akan ikhlas melaksanakannya.
  1. Menasihati sebaiknya dirahasiakan.
Dalam menasihati anak didik ada baiknya juga bisa dirahasiakan dan juga bisa di buka secara umum. Untuk nasihat klasikal bisa dilakukan di depan kelas juga bisa disampaikan saat upacara dan dimanapun berada, bahkan tidak ada batasan waktu untuk saling menasihati. Karena kita keluarga sehingga semua saling memberikan nasihat demi kabaikan kita bersama. Untuk nasihat pribadi sebaiknya juga dilakukan secara pribadi.
  1. Menasihati dengan santun.
Memberikan nasihat secara santun dapat memberikan suasana yang lembut dan semata-mata tidak menyuruh bahkan menggurui. Setiap orang menyukai kelembutan. Anak terkadang juga tidak mau didikte atau dipaksa.
Guru sebagai penasihat akan memberikan kenyamanan kepada anak didik kita. Mereka akan sering berkomunikasi dua arah untuk saling memberikan informasi serta pemecah masalah ketika anak didiknya ada problematika yang menimpa pada diri si anak.


GURU ITU RAMBU-RAMBU PERATURAN SEKOLAH

            Anak-anak sekarang suka bermain dan bertindak tanpa pengendalian dari orang-orang di sekitarnya. Demikian juga di sekolah, tidak sedikit anak yang kurang menaati peraturan. Akibat kurangnya perhatian dari guru di sekolah dan mungkin juga orang tua dan lingkungan, maka anak sekarang cenderung tidak mengindahkan perintah orang tua. Dengan fenomena tersebut maka dunia pendidikan harus segera berbenah untuk mengefektivitaskan kinerja guru di sekolah
Guru merupakan orang yang sangat dipatuhi oleh anak didiknya. Kedatangan guru di sekolah merupakan rambu-rambu berjalan di sekolah. Kemanapun guru bergerak merupakan area yang steril akan pelanggaran. Tapi apakah semua guru seperti itu? Seandainya semua guru berperan seperti rambu-rambu lalu lintas, maka kedisiplinan anak akan meningkat, bahkan karakter anak akan segera terbentuk dengan cepat.
Bagaimana seharusnya guru di sekolah? Kehadiran guru menjadi perhatian anak didik ketika para guru:
1.      Selalu memberikan perhatian kepada anak didiknya.
2.      Memberikan peringatan kepada anak didiknya ketika melanggar peraturan sekolah.
3.      Memberi contoh kepada anak didiknya.
4.      Bersama anak didik melakukan kegiatan yang disepakati bersama.
5.      Memberikan sanksi kepada anak yang melanggar peraturan.
6.      Memberikan reward kepada anak yang sukses.
7.      Selalu peduli kepada anak didiknya.
8.      Besahabat dengan anak didik.
9.      Selalu dekat dengan anak didik
10.  Selalu ingin tahu kondisi anak didik.
11.  Memberi pencerahan
Ketika seorang guru sudah seperti yang di atas maka anak didik akan selalu mengikuti irama yang dimau oleh guru maupun sekolah.
Ketika guru berjalan anak didik akan mengoreksi diri apakah saya sudah rapi dan pantas untuk bersalaman dengan bapak/ibu guru tersebut? Seandainya anak didik sudah berani bersalaman dengan mengucapkan salam berarti mereka sudah rapi, komplit seragamnya serta tidak lupa bawaannya.
Dimanapun saya mengajar sejak dari SMPN 2 Parang, di SMPN 2 Bendo, SMPN 1 Takeran, SMPN 1 Nguntoronadi, SMPN 2 Kawedanan dan yang terakhir di SMPN 1 Karangrejo, saya selalu menganjurkan untuk membawa buku sebagai pembiasaan dan diharapkan anak didik mempunyai kegemaran membaca. Bahkan ketika saya mengajar di UNIPMA, saya selalu mengharuskan kepada mahasiswa yang saya ampu untuk menambah satu hobi lagi yaitu membaca dan mendengarkan pengajian.
Saat ini pemerintah sedang meluncurkan GLS yaitu Gerakan literasi Sekolah. Maka dengan pembiasaan membawa buku kemanpun dan dimanapun berada diharapkan anak mempunyai kegemaran membaca dan akhirnya lancar menulis.


MENG-KO PNS/ORANG LAIN
DEMI GURU DI INDONESIA
Banyak orang memandang sebelah mata atau memandang negatif akan kinerja guru dan menganggap  guru tidak berhasil mengangkat kualitas pendidikan. Tidak hanya satu dua orang saja, banyak orang yang saya temui juga berpandangan seperti itu dan itu memang kenyaaan yang tidak bisa kita pungkiri.
Namun saya tidak merasa kepercayaan diri atau nyali saya menyusut, bahkan saya bertambah antusias untuk berdebat dengan mereka yang senang membicarakan masalah kualitas pendidikan di negeri ini. Langsung saya balik bertanya. Apakah bapak atau ibuk punya putra?.Ya punya jawabnya. Sekolah dimana ?. Baru SMA/SMP. Setelah dari SMA akan kuliah dimana ?. Di ITS/UGM/Uner . Langsung saya menimpali, kalau begitu tidak usah disalahkan kalau kualitas guru tidak layak, dan pantas kalau kualitas pendidikan di negeri ini jeblok.






GURU WAJIB MENDENGARKAN PENGAJIAN


Dalam perkembangan kurikulum di Indonesia, yang terasa ada perubahan mendasar adalah Kurikulum 2015 yang dikenal dengan sebutan K 13. Namun kurikulum tersebut belum genap setahun sudah dihentikan oleh menteri kita yang kurang paham dengan dunia anak terutama di dunia pendidikan menengah ke bawah.
Dunia anak yang akhir-akhir ini mengalami kemerosotan mental terutama bandelnya anak didik dalam dunia pergaulan, membuat perubahan kurikulum harus dilakukan. Terbelenggunya dengan dunia game online di internet dan semakin terbentuknya karakter anti sosial semakin dirasakan oleh orang tua dan lingkungan serta di sekolah.
Seringnya orang tua mengeluh terhadap kebandelan anaknya membuat gelisah para generasi tua. Sehingga sudah benar kalau pemerintah sekarang mempunyai jargon ”revolusi mental. Penanggung jawa masa depan generasi muda penerus bangsa adalah pendidikan dan yang menjadi tombak pendidikan adalah guru, sedangkan guru saat ini masih sangat kurang pengetahuannya tentang dunia pembinaan mental. Maka wajar juga kalau peserta  didik memiliki  pendidikan budi pekerti yang rendah. Selama ini guru hanya bekerja menjalankan tugas, yang menurut mereka adalah mengajarkan pelajaran. Jika guru sudah mengajar, maka mereka berpikir selesailah sudah tugas  mereka. Pada kenyataannya, untuk menjadi generasi yang hebat diperlukan pendidikan mental dan spiritual, maka guru diwajibkan untuk menjadi sosok yang komplit dalam segala hal.
Walaupun guru bukan orang terhebat dan sempurna, namun penyampaian ilmunya harus diiringi dengan ilmu menghadapi dunia nyata. Anak didik harus dipersiapkan untuk menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat. Oleh karena itu guru diwajibkan mendengarkan pengajian tiap hari serta seminar atau motivasi dengan tujuan dapat mengarahkan dan memberi nasihat untuk menjadi orang yang sukses dunia akhirat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bab II MEMANDANG PENDIDIKAN

buku 4

Saudaraku Jangan Kau Hasad